21
May
09

Saat Ingin Bicara

Buta sudah rasa dimana
Telah lelah kita percaya
Pergi semua sakit sakit jauh dari sini
Pikir sihir membakar puas
Membakar puas…

Iblis perang hancurkan sedih
Tubuh lelah terkurung gelap
Habis sudah rasa kemanusiaan
Hilang lenyap terkubur umur
Terkubur umur…

Biarkanlah mereka
Rasakan kenikmatan

Adakah ini akan berakhir
Ataukah ini adalah akhirnya
Adakah ini akan berakhir
Ataukah ini adalah akhirnya
Adalah akhirnya…

Itu tadi lirik Labirin punya Pure Saturday, band Indonesia yang paling saya respek. Sangat sesuai dengan apa yang saya rasakan saat ini walaupun single itu dirilis satu dekade lalu. Continue reading ‘Saat Ingin Bicara’

20
Jul
08

Al-Aqsa: Kenangan geLap

Tinggal menghitung mundur beberapa hari lagi dan sampailah kita pada tanggal 27 Rajab, satu hari bersejarah. Yup, enggak salah kalau masih ingat di tanggal itu, 14 abad silam manusia paling mulia sepanjang zaman menembus ruang dan waktu, menghadap Allah dan menerima perintah sholat lima waktu.

Isra’ Mi’raj. Tiap tahun di negeri ini ramai diperingati. Dari pelosok desa sampai pejabat kelas presiden tak akan ketinggalan. Alhamdulillah, umat ini banyak yang sadar akan peristiwa bersejarah ini. Yang jarang nongol di masjid jadi datang ke acara special buat menghadiri pengajian Atau event lain yang digelar buat menyambutnya. Continue reading ‘Al-Aqsa: Kenangan geLap’

20
Jul
08

Titel yang terpinggirkan

Dalam satu sisi dunia yang terbelah..

Melayang diantara mimpi dan kenyataan

Seperti puffin yang mencoba mengangkasa

Terbang dengan sayap sebelah

Tertabrak awan dan meluncur ke bumi Continue reading ‘Titel yang terpinggirkan’

20
Jul
08

Cerita Ayah

Sebelum kami tidur ayah…

Dulu ada padang dan lembah subur, menghijau permukaannya tertutup rumput dan barisan pohon2 berkayu tinggi menjulang. Belukar menjadi tempat kesenangan herbivore memungut daun2 segar..mengundang kambing-kambing yang kelaparan. What a sight! Tetesan liur pemangsa pun bercucuran. Harimau belang mendekat, mengintai dan siap menubruk dan memamah diantara kambing yang lemah. Insting tanda bahaya membisiki mereka tuk lari menyelamatkan diri. Continue reading ‘Cerita Ayah’

24
Jun
08

The Story of the non-Semitic Jews

By Tawfiq Abdul-Fattah, in Free Arab Voice
16 December 1997

Once upon a time in ancient Khazaria the entire kingdom converted to Judaism by decree from the king.

Arthur Koestler, a Jew born in 1905 in Budapest, writes that the Khazars who flourished from the 7th to the 11th century were in those bygone days a major political power. Their empire extended from the Black Sea to the Caspian and from the Caucasus to the Volga.

They were located “between two major world powers: the Eastern Roman Empire in Byzantium and the triumphant followers of Muhammad”. Since the world was then polarized between these two superpowers, representing Christianity (western style) and Islam, the Khazar empire representing a third force could only maintain its political and ideological independence by accepting neither Christianity nor Islam “for either choice would have automatically subordinated it to the authority of the Roman Emperor or the Caliph of Baghdad.”

Not wishing to be dominated by either of the two, the Khazar king “embraced the Jewish faith” in AD 740 and ordered his subjects to do the same. Judaism thus became the official state religion of the Khazars.

Obviously the king’s motives in adopting Judaism were purely political. “The bulk of modern Jewry is not of Palestinian, but of Caucasian origin”, Koestler writes. “Their ancestors came not from the Jordan but from the Volga, not from Canaan but from the Caucasus.” And he stresses: Continue reading ‘The Story of the non-Semitic Jews’

22
Jun
08

PemBunUHan TanPa prOSes HuKuM

Mungkin kita sudah bosan mendengar berita2 tentang konflik Palestina yang belum juga kelar. Mungkin juga telah muak melihat ratusan meter kubik darah mengguyur tanah dan jalanan disana. Atau sebagian kita berpikir ngapain jauh-jauh menengok mereka. Peperangan itu ada jauh di seberang negeri, lalu apa peduli kita? Bertemu dengan orang-orang itu juga belum pernah, peduli amat. Bukankah wajar jika dalam perang itu terjadi insiden saling bunuh, untuk sebuah pertahanan diri dan mendapat kemenangan? Belum tentu juga mereka sedetikpun memikirkan kita, negeri kita sendiri yang rakyatnya tengah menjerit merasakan harga barang-barang esensial untuk hidup semakin melangit tanpa ada penambahan pendapatan. Jikalau ada pihak yang menang dan kalah, bukannya itu biasa, sama2 terluka. Yang menang bisa tersenyum lega, yang kalah bakal tak henti2nya mengutuk dan mengumpat biadabnya sang pemenang. Seperti Indonesia yang pasti tidak akan menyebut Belanda atau Jepang sang dermawan atau dewa penyelamat karena keduanya pernah menjajah negeri ini. Dan begitulah tradisi perang dalam sejarah, perang selalu menghiasi kehidupan manusia.

Continue reading ‘PemBunUHan TanPa prOSes HuKuM’

22
Jun
08

KePomPonG

DuLu kITa saHaBaT, berteman bagai ulat, berharap jadi kupu-kupu

Dulu kita sahabat, teman begitu hangat, mengalahkan sinar mentari

Kini kita berjalan berjauh-jauhan

Kau jauhi diriku karena sesuatu

Namun engkau tetap aku sayang

Persahabatan bagai kepompong; hal yang tak mudah berubah jadi indah

Persahabatan bagai kepompong; berharap jadi kupu-kupu

Persahabatan bagai kepompong; memaklumi teman hadapi perbedaan

sahabat, would you be my friend, everlasting friend..




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.