Archive for June, 2008

24
Jun
08

The Story of the non-Semitic Jews

By Tawfiq Abdul-Fattah, in Free Arab Voice
16 December 1997

Once upon a time in ancient Khazaria the entire kingdom converted to Judaism by decree from the king.

Arthur Koestler, a Jew born in 1905 in Budapest, writes that the Khazars who flourished from the 7th to the 11th century were in those bygone days a major political power. Their empire extended from the Black Sea to the Caspian and from the Caucasus to the Volga.

They were located “between two major world powers: the Eastern Roman Empire in Byzantium and the triumphant followers of Muhammad”. Since the world was then polarized between these two superpowers, representing Christianity (western style) and Islam, the Khazar empire representing a third force could only maintain its political and ideological independence by accepting neither Christianity nor Islam “for either choice would have automatically subordinated it to the authority of the Roman Emperor or the Caliph of Baghdad.”

Not wishing to be dominated by either of the two, the Khazar king “embraced the Jewish faith” in AD 740 and ordered his subjects to do the same. Judaism thus became the official state religion of the Khazars.

Obviously the king’s motives in adopting Judaism were purely political. “The bulk of modern Jewry is not of Palestinian, but of Caucasian origin”, Koestler writes. “Their ancestors came not from the Jordan but from the Volga, not from Canaan but from the Caucasus.” And he stresses: Continue reading ‘The Story of the non-Semitic Jews’

22
Jun
08

PemBunUHan TanPa prOSes HuKuM

Mungkin kita sudah bosan mendengar berita2 tentang konflik Palestina yang belum juga kelar. Mungkin juga telah muak melihat ratusan meter kubik darah mengguyur tanah dan jalanan disana. Atau sebagian kita berpikir ngapain jauh-jauh menengok mereka. Peperangan itu ada jauh di seberang negeri, lalu apa peduli kita? Bertemu dengan orang-orang itu juga belum pernah, peduli amat. Bukankah wajar jika dalam perang itu terjadi insiden saling bunuh, untuk sebuah pertahanan diri dan mendapat kemenangan? Belum tentu juga mereka sedetikpun memikirkan kita, negeri kita sendiri yang rakyatnya tengah menjerit merasakan harga barang-barang esensial untuk hidup semakin melangit tanpa ada penambahan pendapatan. Jikalau ada pihak yang menang dan kalah, bukannya itu biasa, sama2 terluka. Yang menang bisa tersenyum lega, yang kalah bakal tak henti2nya mengutuk dan mengumpat biadabnya sang pemenang. Seperti Indonesia yang pasti tidak akan menyebut Belanda atau Jepang sang dermawan atau dewa penyelamat karena keduanya pernah menjajah negeri ini. Dan begitulah tradisi perang dalam sejarah, perang selalu menghiasi kehidupan manusia.

Continue reading ‘PemBunUHan TanPa prOSes HuKuM’

22
Jun
08

KePomPonG

DuLu kITa saHaBaT, berteman bagai ulat, berharap jadi kupu-kupu

Dulu kita sahabat, teman begitu hangat, mengalahkan sinar mentari

Kini kita berjalan berjauh-jauhan

Kau jauhi diriku karena sesuatu

Namun engkau tetap aku sayang

Persahabatan bagai kepompong; hal yang tak mudah berubah jadi indah

Persahabatan bagai kepompong; berharap jadi kupu-kupu

Persahabatan bagai kepompong; memaklumi teman hadapi perbedaan

sahabat, would you be my friend, everlasting friend..

22
Jun
08

Api!

Hari Jum`at itu, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap.

Maka berteriaklah Sang Mullah, “Api! Api! Api!”

Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya, “Dimana apinya, Mullah ?”

Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya, “Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah.”

22
Jun
08

Gelar Timur Lenk

Timur Lenk mulai mempercayai Nasrudin, dan kadang mengajaknya berbincang soal kekuasaannya.

“Nasrudin,” katanya suatu hari, “Setiap khalifah di sini selalu memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya: Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil ‘Alallah, Al-Mu’tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku ?”

Cukup sulit, mengingat Timur Lenk adalah penguasa yang bengis. Tapi tak lama, Nasrudin menemukan jawabannya. “Saya kira, gelar yang paling pantas untuk Anda adalah Naudzu-Billah (Aku berlindung kepada Allah (darinya)) saja.”

22
Jun
08

GHORQOD: MysTeRy RevEaLed

“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi. ” (HR Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/308)

Dari Abi Hurairah ra. bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian (muslimin) memerangi Yahudi, kemudian batu berkata di belakang Yahudi, “Wahai muslim, inilah Yahudi di belakangku, bunuhlah!” (HR Bukhari dan Muslim dalam Shahih Jami’ Ash-Shaghir no. 7414)

Sudah lama orang2 yang membaca hadist2 yang tidak diragukan kesahihannya ini bertanya2, bagaimana Yahudi bisa berperang melawan umat Islam? Seperti terekam sejarah, Yahudi sebagai sebuah bangsa telah kocar-kacir dan terdiaspora ke berbagai tempat di bumi setelah kerajaan terakhirnya di Kanaan (Palestina sekarang) diserang kerajaan Babilonia. Dari masa Rasulullah saw era Madinah sampai kekhalifahan terakhir Turki Usmani di seperempat awal abad keduapuluhpun, Yahudi tetap menjadi minoritas. Mereka hidup aman dibawah lindungan pemerintahan Islam. Lalu bagaimana cara kaum Yahudi menggalang kekuatan sampai berani melawan umat Islam? Continue reading ‘GHORQOD: MysTeRy RevEaLed’

21
Jun
08

Apa yang bisa kulakukan untuk islam?

Karena kuyakin Islam adalah karunia Allah yang terbesar bagi alam raya seisinya. Dengannya, dunia akan makmur, karena Islam membawa setiap hal yang sesuai dengan fitrah setiap makhluk, baik yang mati maupun bernyawa. Islam memiliki satu sumber. Kehidupan di alam semesta ini berasal dari sumber yang sama. Sumber segala sesuatu itu adalah sama. Ia adalah satu, Allah Yang Maha Tinggi. Tidak ada sesuatu yang menyerupai, apalagi menyaingiNya. Untuk itu, Ia Yang Maha kuasa menurunkan undang-undang untuk mengatur seluruh ciptaanNya. Manusia, dengan kehendakNya, telah dimuliakan untuk memanggul tanggung jawab terbesar dan utama, amanah untuk mengelola bumi seisinya. Amanah yang telah ditawarkan kepada gunung, tapi mereka menolak.mandat yang ditawarkan kepada bumi, namun bumipun tidak menyanggupi. Betapa berat amanah ini. Dan manusia yang tidak sehebat bumi, tidak sekokoh gununung, berani menerimanya. Sungguh, betapa ceroboh dan sombongnya manusia. Tapi Allah memang Maha Adil. Manusia tidak begitu saja dilepas tanpa dibekali perangkat untuk melaksanakan tugas beratnya di bumi. Allah memberi manusia akal. Allah menganugerahi fisik yang sempurna bagi manusia. Allah menganugerahi hati nurani. Semua itu adah pemberian paling berharga.

Continue reading ‘Apa yang bisa kulakukan untuk islam?’