22
Jun
08

PemBunUHan TanPa prOSes HuKuM

Mungkin kita sudah bosan mendengar berita2 tentang konflik Palestina yang belum juga kelar. Mungkin juga telah muak melihat ratusan meter kubik darah mengguyur tanah dan jalanan disana. Atau sebagian kita berpikir ngapain jauh-jauh menengok mereka. Peperangan itu ada jauh di seberang negeri, lalu apa peduli kita? Bertemu dengan orang-orang itu juga belum pernah, peduli amat. Bukankah wajar jika dalam perang itu terjadi insiden saling bunuh, untuk sebuah pertahanan diri dan mendapat kemenangan? Belum tentu juga mereka sedetikpun memikirkan kita, negeri kita sendiri yang rakyatnya tengah menjerit merasakan harga barang-barang esensial untuk hidup semakin melangit tanpa ada penambahan pendapatan. Jikalau ada pihak yang menang dan kalah, bukannya itu biasa, sama2 terluka. Yang menang bisa tersenyum lega, yang kalah bakal tak henti2nya mengutuk dan mengumpat biadabnya sang pemenang. Seperti Indonesia yang pasti tidak akan menyebut Belanda atau Jepang sang dermawan atau dewa penyelamat karena keduanya pernah menjajah negeri ini. Dan begitulah tradisi perang dalam sejarah, perang selalu menghiasi kehidupan manusia.

Hanya saja, hari ini kita hidup di zaman yang dianggap telah maju. Maju dalam arti kehidupan modern yang ditandai dengan pesatnya perkembangan di sektor ilmu, teknologi, budaya, ekonomi, juga isu hak asasi manusia yang diakui keberadaannya. Naif sekali jika ada kejadian di ujung bumi yang menjadi headline mainstream media (walaupun isinya bias) sampai kita tidak tahu apa-apa. Era kita sudah terlalu canggih jika dibandingin dengan zaman kakek atau buyut kita mengalirkan keringat dan darah untuk kemerdekaan negeri ini. Kita pun mengklaim diri sebagai bangsa yang beradab, yang menempatkan kemanusiaan sebagai sesuatu yang harus dihormati. Juga dalam pembukaan konstitusi negeri ini, dicantumkan bahwa penjajahan adalah sesuatu yang harus dilenyapkan dari muka bumi.

Jika kita menelusuri sejarah, tidak ada fakta yang menampik penjajahan Israel atas tanah Palestina. Lewat sebuah konspirasi jangka panjang yang rumit, yang menghasilkan ‘prestasi’ perang dunia I & II, Yahudi Zionist (yang menginginkan terbentuknya Negara Yahudi di Palestina) berhasil memaksa ribuan Yahudi Eropa untuk eksodus ke Palestina dengan meminjam tangan Nazi Jerman untuk lebih dulu menciptakan ‘kondisi tidak aman’ bagi Yahudi dengan membantai mereka. Propaganda pun gencar dikumandangkan untuk meyakinkan kaum Yahudi bahwa sesuai Taurat, Palestina adalah ‘tanah yang dijanjikan’ untuk Yahudi. Eksodus diperlukan karena untuk mendirikan sebuah negara, penduduk yang banyak mutlak diperlukan. Jumlah orang Yahudi harus melebihi jumlah orang Palestina. Mulai saat itulah, pengusiran besar2an orang Palestina dari rumah mereka sendiri dilakukan dengan kekerasan, hingga pada 14 Mei 1948 sebuah negeri Yahudii bernama Israel dengan Zionisme sebagai ideologinya didirikan. Ibarat orang asing yang merampok rumah kita di siang hari. Sialnya, media2 besar yang memang dibawah kendalii Zionis berusaha membuat peristiwa ini bias. Sejarah pun ditulis mengikuti kemauan mereka. Itulah sebenarnya yang membuat bangsa Palestina geram. Mereka yang menyadari bahaya Zionis Yahudipun melawan. Hingga hari ini perlawanan itu terus berlanjut, karena Israel memang keras kepala. Perlu diketahui, bahwa Israel selalu berupaya memperluas wilayahnya dengan menjarah tanah Palestina.

Negara Israel adalah satu-satunya negara di dunia yang tidak memiliki perbatasan yang’ jelas, atau dengan kata lain, tidak memiliki perbatasan sarna sekali, baik dalam gagasan maupun dalam konstitusinya. Luas wilayah negara Israel yang dibentuk tidak pernah ditentukan

(ZA Maulani: Zionisme Gerakan Penaklukan Dunia, 2001). Tentu saja ini semakin menyuburkan tumbuhnya gerakan perlawanan anti Israel yang membuat pihak Israel membuat alibi ‘mempertahankan diri’ untuk membungkam mereka.

Tingginya angka kematian orang Palestin dalam beberapa tahun sejak meletusnya Intifadah (perjuangan yang dilakukan oleh sekelompok orang Palestina, yang bersenjatakan batu-batu, melawan musuhnya, orang2 Israel yang berbekal tank, roket, peluru, rudal) bukanlah hal yang aneh kalau melihat kebijakan penembakan permisif yang diadopsi oleh tentara Israel pada permulaan Intifadah kedua (September 2000). Organisasi HAM Palestina, Al Haq menjelaskan dalam ‘Al Haq’s Waiting for Justice, 2004’, bahwa kebijakan itu membolehkan dilakukannya penembakan pada saat situasi belum jelas berbahaya atau tidak, atau bahkan dalam situasi tidak ada sedikitpun bahaya yang mengancam. Menjadilah kebiasaan kematian orang Palestina di tangan Israel: tembak (mati) dulu, baru ditanya (emang bisa?). Dari pengakuan seorang tentara Israel yang telah berhenti dari tugasnya di wilayah Tepi Barat, “Kami duduk disana ketika komandan pasukan tengah menjalankan prosedur itu, kamilah yang memutuskan garis merahnya, kapan menembak, kapan tidak” (Koran Ha’aretz –korannya Israel-, seperti dikutip Waiting for Justice).

Dari kebijakan itu, Israel menggunakannya secara berlebihan untuk memaksa orang2 Palestina yang mereka inginkan kematiannya, ‘the wanted Palestinians’, dengan langsung mengeksekusinya tanpa proses hukum lebih dulu. Bukankah ini bisa disebut cacat hukum? Seperti kata Don Oberdorfer yang dikutip dalam buku Crimes of War: Ed. Gutman dan Reiff, 1999, bahwa, ‘Hal itu (pembunuhan), tentu saja menyalahi hukum dengan mengeksekusi seorang tertuduh tanpa membawanya lebih dulu ke hadapan pengadilan yang fair’. (Coba compare dengan kasus “Indonesiawi” Amrozi cs dengan kasus bom Balinya –jika itu benar- yang tetap melalui proses pengadilan meskipun berlarut2). Satu diantara ‘aktivitas’ pembunuhan tanpa proses hukum itu bisa dilihat disini. Israel secara rutin mengeksekusi wanted Palestinians lewat serangan udara diatas kamp pengungsi berpenduduk padat dan menutupi kenyataan tanpa ada protes serius dunia internasional.

Dalam kasus pengeksekusian diluar hukum, Gutman mencatat ‘dua badan hukum (harus) digunakan, yaitu hukum kemanusiaan yang diterapkan pada konflik bersenjata dan hukum hak asasi manusia yang diterapkan bahkan disaat hukum perang tidak diberlakukan. Syarat diadakannya pengadilan yang fair bagi personel militer maupun penduduk sipil adalah sama. Setiap terdakwa memiliki hak: melawan tuduhan criminal, menolak keputusan peradilan, memiliki penasehat hukum, konseling, diberitahu tuduhan khusus yang diajukan kepadanya, menyiapkan pembelaan diri, menghadirkan saksi, memiliki interpreter dan mengajukan permintaan.’

Ali Abunimah dari Electronic Intifada menunjuk adanya pola hipokrit yang muncul saat orang2 Palestina bersenjata melakukan kekerasan yang mematikan; “Kutukan akan menimpa orang Palestina dari orang2 yang saat ini diam (tidak melakukan apa2) dan duduk dengan tangan mereka ketika kekerasan dilakukan Israel. Sementara itu, mereka yang menyeru untuk melucuti orang Palestina bersenjata dan melakukan reformasi terus saja menyuplai Israel dengan senjata dan mengambil keuntungan dari pertunjukan ini.” Bisa jadi tulisan ini dianggap hanya melihat kasus ini dari sudut pandang Palestina, tapi Anda bukanlah robot yang selalu menuruti tombol yang dipencet pengendalinya. Silakan mencari info sedalam2nya dan mungkin akan membuat kesimpulan yang sejalan.

Kita ini sebagai orang yang masih memiliki rasa simpati, apalagi muslim, yang diajari ukhuwah oleh rasulnya yang mulia, normalnya tidak akan tinggal diam menyaksikan semua ini. Paling tidak ada air mata dalam hati, doa yang terlantun tulus, hingga upaya nyata untuk mengenyahkan segala bentuk penjajahan dan tirani. Bukan berarti kita mengesampingkan saudara2 kita di negeri sendiri, tapi itulah konsekuensi bahwa kita, sesama muslim dimanapun berada adalah ibarat satu tubuh. Mereka jelas bukan ibu, ayah, paman, kakak, adik, kakek, nenek, atau keponakan kita, tapi mereka adalah saudara kita seiman. Jemari kita, tangan, kaki, kepala kita. Akankah kita paksa saraf kesadaran kita lumpuh tanpa bisa merasakan sakit terus menyerang itu?


1 Response to “PemBunUHan TanPa prOSes HuKuM”


  1. November 14, 2008 at 8:25 am

    air mata, doa, ilmu, dan semangat kepedulian,..
    itu yang bisa kita lakukan dari jauh,.

    manfaatkan aja underground media, kalo semua media di Indonesia sudah sulit diharapkan,..

    hehe,..mba, mampir yha saya!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: